Bangun pagi dengan badan yang tak merasa nyaman membuatku enggan segera beranjak dari ranjang (Ceileh … ranjang euy). Rasanya ingin tidur lagi. Tapi ada yang mengusik. Mimpi tadi di saat tidur masih nyangkut di kepala. Mimpi tentang sekolah, guru-guru, pastoran, doi dan banyak lagi. Untuk yang “banyak lagi” hampir semuanya tak ada yang dapat kuingat.

Hanya ada hal yang membuatku ingin menulis. Apa gerangan makna mimpi tersebut? BUkan saya tertarik pada ilmu nujum atau melihat mimpi sebagai sebuah pertanda masa depan. Tapi bagiku mimpi itu justeru membawaku ke masa lalu. Sebab hadirnya karakter-karakter dalam mimpi tadi adalah karakter yang terbangun di masa laluku. Ingin tahu lebih lanjut sampai Baca entri selengkapnya »

SIAPKAN DIRI

Posted: Juni 14, 2011 in Uncategorized

Letih dan marah rasanya melewatkan ujian hari ini dengan rasa kecewa. Soal ujian yang harusnya bisa diselesaikan menjadi sulit dituntaskan karena kalkulator tua yang sulit diajak kerjasama. Belum lagi perasaan sebagai seorang yang gagal mulai menyeruak di balik diam. Maka benar seperti film The Mechanic, kemenangan milik mereka yang siap.

Setidaknya masih ada yang tersisa dari langkah gagal hari ini…..

PILIHAN

Posted: April 28, 2011 in Uncategorized

Aku percaya aku memiliki otoritas

Keistimewaaan yang diberi Allah sejak awal mula

Jauh sebelum aku mengenal dunia

Serta semua yang tak terbatas.

Aku percaya kelekatan adalah kesesatan

Seperti sebuah parasit yang membunuh

Membunuh inang secara perlahan.

Aku percaya pembebasan diri adalah jalan

Sebuah keniscayaan yang memerdekakan

Dari hidup yang telah berubah menjadi medan perang.

Aku percaya aku memiliki otoritas

Keistimewaan yang menjadi anugerah terbesar

Dalam sejarah hidup manusia yang percaya pada Allah. Aku percaya … dan aku percaya

Pilihan ada di tanganku,

Semoga berkenan bagiMu.

“Tuhan ajari aku untuk mengubah apa yang masih dapat kuubah,

dan menerima setiap hal yang tidak dapat kuubah”

BERSYUKUR

Posted: Januari 1, 2011 in Uncategorized

Ini hari pertama tahun baru 2011. Tubuh lemah, batuk-batuk, dan tentu saja tidak mengurangi kegembiraan melewati momen pergantian tahun dengan resolusi spontan yang tidak terencanakan. Semoga menjadi lebih baik dan diberi kesehatan.
Aku menuju 2011 dengan kekacauan di sana-sini. Sebagian diantaranya terdeteksi dengan baik sebagian lainnya tidak sempat terdeteksi. Ujianku berantakan, pasti. Aku bisa mengatasinya dengan rendah hati mengakui kegagalanku dalam menyesuaikan diri dengan kondisi baru dunia akademik. Belum lagi ujian dalam keadaan demam hebat dan hidung yang mengalami gangguan teknis. Seperti lahar dingin Baca entri selengkapnya »

Sportivitas menjadi barang mahal dalam laga pertandingan Piala AFF leg I di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Tampaknya menggambarkan mental arogansi kolonial dan perilaku tukang klaim dari negeri jiran tersebut. Serbuan sinar laser yang mengarah kepada pemain Timnas, khususnya penjaga gawang Markus Horison disinyalir menjadi pemicu kegagalan Timnas selain dari seremoni politisasi ala Nurdin Halid. Sikap demikian ini sesungguhnya gambaran bahwa Malaysia tidak benar-benar akan menjadi saudara serumpun dalam arti yang sesungguhnya.

Publik Indonesia tentu saja kecewa berat dengan hasi l 0-3 yang menjatuhkan harapan yang sempat melambung bersama euforia kemenangan Timnas selepas menekuk Filipina. Terlebih kalah dihadapan publik Malaysia yang beberapa tahun terakhir kerap menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia. Mulai dari kasus Sipadan Ligitan, penangkapan petugas kelautan, penyiksaan TKI, dan banyak kasus lainnya. Jadi, alih-alih persoalan sportivitas di dunia sepak bola, euforia ini juga bagi saya merupakan akumulasi kerinduan rakyat Indonesia atas kembalinya martabat mereka sebagai bangsa yang akhir-akhir ini hilang di telan gemerlap pencitraan elite politik.

Sudah menjadi rahasia public bahwa dalam banyak bidang kita jauh tertinggal. Pendidikan kita yang kian mahal dan mencekik leher rakyat miskin, kebudayaan yang dikomodifikasi untuk keuntungan namun diabaikan nilai-nilai luhurnya, ekonomi yang timpang , politik yang dihujani konflik, dan banyak hal lainnya kita tertinggal. Belum lagi sikap lembek pemimpin kita yang konon katanya Jenderal tapi menghadapi ormas pelaku kekerasan saja tak bisa tegas. Hal ini membuat publik kian terasing dan kehilangan identitasnya sebagai bagian dari suatu bangsa. Maka ketika Timnas dibawah asuhan Alfred Riedl berhasil menembus semi final, euforia dan akumulasi kerinduan itu melambung bersama.

Maka lepas dari persoalan laser dan sportivitas supporter, hasil apapun nantinya putaran akhir Final Piala AFF di Gelora Bung Karno, rakyat Indonesia harus tetap menjaga momentum. Momentum untuk satu suara dalam menjaga martabat bangsa. Sebab bagaimanapun, dari lapangan hijau bangsa kita telah diingatkan untuk selalu menjaga kesatuan dan belajar soal arti penting daya kritis. Maka bila momentum kebangkitan solidaritas ini bisa dijaga dan dilepas dari euforia, jangan PSSI, sekalian NKRI ini pun bisa direvolusi. Saatnya daya kritis dan kesadaran public menjadi penentu kemajuan bangsa kita yang merindukaan rasa bangganya.

Tetaplah berkibar Sang Saka Merah Putih, Tetap Bangga Garuda di Dada.